Jumat, 08 Februari 2019

CERPEN | BEHIND THE DISASTER

Behind The Disaster

Suasana tampak sibuk di kantor utama WHO, Jenewa. Seorang gadis berambut platina tampak begitu terburu menuju sebuah ruangan berpintu kaca. Ia mengetuk pintu dengan sopan. Tak berapa lama, terdengar sahutan dari dalam.

"Maaf Tuan Evan, saya terlambat. " sesal gadis itu sembari menunduk.

Seorang pria bernama Evan mengangguk pelan dan mengulas senyumnya. Ia mempersilakan gadis itu untuk duduk. Segera ia menyodorkan sebuah map hitam ke hadapan gadis tadi.

"Bacalah, Dokter Daniella! " gadis bernama lengkap Daniella Emmanuelle itu segera meraih map tadi dan membukanya, mempelajari hal yang tertera dengan cermat.

"Gempa di Indonesia? Bukannya tim kita telah dikirim ke sana dua hari yang lalu, Tuan? "

"Kau benar, tapi bukan hal itu yang ingin kubicarakan denganmu, " Tuan Evan menghela napas, "bukalah halaman selanjutnya! " Daniella menurut dan membuka halaman selanjutnya.

Begitu halaman selanjutnya dibuka, betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat foto yang terpampang di sana. Manik Daniella melebar, raut terkejutnya begitu kentara. Foto mengerikan yang ia lihat itu sukses membuatnya terkejut sekaligus bertanya-tanya.

"Apa yang terjadi pada mereka? " Daniella menggumam, masih menatap foto beberapa orang dengan luka menjijikan di area mulut, mata melotot dengan syaraf-syarafnya yang memerah, ditambah dengan kulit kering dan mengelupas.

"Menurutmu apa yang terjadi? " Tuan Evan malah balik bertanya. Hal itu membuat dahi Daniella berkerut.

"Saya ragu, Tuan. Mungkinkah, mereka terserang virus? " Daniella menelengkan kepalanya. Sementara Tuan Evan hanya bisa mengulas senyum tipis.

"Kau memang cerdas, segeralah bersiap. Dua jam lagi pesawatmu akan lepas landas. " Daniella sontak dibuat melongo saat melihat Tuan Evan yang beranjak dari kursi dan berlalu keluar.

***

Indonesia, pukul 11.40 malam

Daniella menguap pelan, perjalanan yang cukup melelahkan baginya. Menempuh berjam-jam perjalanan dari Swiss hingga ke Indonesia. Ia bersama sembilan orang lainnya harus menempuh perjalanan menggunakan mobil TNI menuju tenda medis di pengungsian.

Manik biru Daniella dapat melihat kerusakan parah di sekitarnya. Hampir semua yang ia lihat adalah bangunan yang rata dengan tanah. Gadis itu hanya dapat menghela napas, ia sungguh menyayangkan hal ini. Terlebih karena ia tahu jika Indonesia mempunyai pesona menakjubkan. Dan yang ia lihat saat ini hanyalah kehancuran.

Sesaat kemudian, atensinya tertuju pada sekelompok tentara yang masih sibuk menggali reruntuhan sebuah bangunan. Segera Daniella melihat jam tangannya. Waktu sudah terlalu larut untuk melakukan pencarian, batinnya.

"Apakah mereka masih mencari para korban?" tanya Daniella menggunakan bahasa Indonesia yang telah ia kuasai sejak beberapa tahun yang lalu.

"Ya. Mereka pasukan khusus yang bertugas ekstra di sini, " sahut seorang anggota TNI yang tengah menyupir. Daniella hanya dapat mengangguk, sementara pandangannya masih tertuju pada sekelompok tentara itu.

"Luar biasa." gumam Daniella kemudian. Anggota TNI yang memegang kemudi itu pun hanya dapat mengulas senyumnya.

Butuh sekitar dua jam perjalanan menuju tempat pengungsian. Daniella dan timnya dapat melihat beberapa anggota TNI yang berlalu lalang. Anggota Palang Merah Indonesia yang beristirahat. Tampak juga beberapa relawan yang tidur dengan posisi duduk, wajah mereka pun menyiratkan rasa lelah yang teramat.

Daniella dan sembilan rekannya itu segera menuju ke bilik bagian belakang yang berisi ranjang-ranjang kecil. Gadis itu meletakkan kopernya dan memilih merebahkan diri di ranjang kecil yang tersedia.

Baru saja gadis itu memejamkan mata, teriakan seseorang mengejutkannya. Kantuknya seketika hilang kala melihat seorang tentara berhelm dan penutup wajah tengah menggendong seorang anak. Pria itu berusaha membangunkan beberapa anggota medis, sayangnya respon yang ia dapatkan kurang memuaskan.

Melihat hal itu, Daniella langsung mengambil alih situasi. Ia mengisyaratkan pria itu untuk menidurkan anak tadi ke ranjang. Segera Daniella memeriksa anak tersebut. Ada beberapa luka eksternal yang segera ia tangani bersama rekannya. Terdapat juga patah tulang tertutup di tangan bocah lelaki itu.

"Sepertinya dia terjebak di reruntuhan sejak kemarin ... " suara pria itu membuat Daniella mendongak. Saat itulah tentara itu menurunkan bandana yang menutupi setangah wajahnya.

Untuk sesaat, Daniella terkejut melihat wajah pria itu. Bukan karena setangah wajahnya yang berdebu sedangkan bagian yang tertutup bandana masih bersih. Namun, paras rupawannya sukses menghipnotis Daniella untuk sesaat. Jika ia tak salah menerka mungkin usia pria itu sekitar 27-28 tahun.

"Excuse me? Are you understa ... " kalimatnya terpotong.

"Ah, ya. Saya bisa berbahasa Indonesia." ujar Daniella yang baru tersadar dari lamunannya.

"Jadi, bagaimana kondisinya?"

"Ah, mm ... luka eksternalnya sudah tertangani. Namun, kami belum bisa memastikan adanya luka internal atau tidak. "

"Hmm, " pria itu mengumam sebagai jawaban.

"Jika kau bilang dia terjebak sejak kemarin, berarti dia sangat kuat, " Daniella tersenyum dan mengelus rambut bocah itu. Rekan Daniella sudah kembali ke bilik untuk istirahat. Tersisa dirinya bersama pria tentara itu. Atmosfer pun berubah canggung.

"Mm ... Anda belum istirahat?"

Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Daniella, terdiam sesaat sebelum menjawab, "Sebentar lagi."

"Saya ... Daniella, Daniella Emannuelle. " lagi-lagi pria itu memandangnya, sesaat sebelum membalas uluran tangan gadis itu.

"Rama, Rama Sanjaya. "

"Jadi, Anda dokter dari WHO untuk penelitian wabah itu?" Daniella terhenyak sesaat. Ia menoleh dengan dahi berkerut.

"Memangnya sudah dipastikan jika itu sebuah wabah?"

"Itu ... saya juga tidak terlau mengerti. " Daniella mengangguk-angguk. Sesaat, terbersit suatu hal di kepalanya.

"Mm ... Kalau Anda punya waktu, bisakah antar saya melihat korban yang terjangkit?"

"Anda yakin? "

***

"Pakailah," Rama memberikan sebuah bandana hitam pada Daniella. Gadis itu segera menerima dan memakainya. Keduanya pun memasuki sebuah tenda besar.Manik Daniella melebar. Ia dapat melihat belasan orang tergeletak dengan kondisi mengerikan. Sama persis dengan foto yang gadis itu lihat sebelumnya.

"Ini adalah para korban di hari pertama, mereka semua sudah meninggal. Sebagian yang belum meninggal terpaksa dikumpulkan di tempat khusus. " Daniella sontak menoleh.

"Tempat khusus?" gadis itu membeo.

"Dokter mengatakan jika mental mereka terganggu kala memasuki periode dua, sekitar sepuluh jam setelah gejala awal timbul. " Daniella mengangguk mendengar penjelasan dari Rama. Otaknya berpikir, apa yang sesungguhnya terjadi. Dari rekam medis yang masih ia baca secara sekilas, penjelasan Rama sama persis.

"Sebaiknya kita segera keluar, tak baik kita terlalu lama disini. Anda baru tiba, istirahatlah. " Rama menuntun Daniella untuk melangkah keluar. Mengantarkan gadis itu ke tenda para dokter dan relawan.

Daniella kembali membaca rekam medis para korban yang terjangkit penyakit aneh itu. Sesekali ia mencari beberapa referensi. Sebelum melakukan uji darah dari korban, ia belum bisa memastikan apapun. Sayangnya, peralatan yang kurang memadai di pengungsian menghambat proses penelitian. Sempel darah korban telah dikirim ke pusat kota, sedang hasilnya baru akan keluar besok pagi. Rupanya ia dan rekan-rekannya harus lebih bersabar.

Malam berlalu begitu cepat, hanya dua jam Daniella dapat terlelap. Pukul empat pagi ia dikejutkan oleh sirine tanda bahaya. Refleks, Daniella meraih ransel berukuran sedang yang berisi dokumen-dokumen penting. Secepat mungkin, ia berlari keluar dari tenda.

Ada puluhan dokter dan relawan yang telah berkumpul. Ditambah sejumlah tentara yang juga berlari tergesa menuju tempat terbuka. Lagi-lagi gempa susulan, untuk sesaat jantung Daniella berdetak tak beraturan. Ia berusaha mengatur pernapasannya sendiri. Ia tak bisa membayangkan rasa panik warga kala merasakan gempa susulan yang hampir tiap hari.

"Daniella, hasilnya akan segera sampai. Rekan yang lain sudah menuju tenda utama untuk berdiskusi dengan beberapa pihak, " jelas Misha sembari menunjuk salah satu tenda di kompleks pengungsian tersebut. Terdapat beberapa dokter spesialis dan para relawan baik dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, terdapat pula beberapa anggota tentara yang hadir dalam pertemuan itu. Termasuk Rama, seorang yang diam-diam berhasil mencuri perhatian Daniella.

"Dari hasil yang kita terima, ditemukan senyawa asing yang tercampur. Kemungkinan, mereka mengonsumsinya. Dan senyawa itu baru bereaksi sekitar satu minggu lamanya. Itu berarti tepat ketika gempa pertama mengguncang wilayah ini. Hari itu juga, area pengungsian di dirikan, " papar seorang dokter pria yang menjadi penanggung jawab tim medis.

"Dengan kata lain, para korban mengonsumsi sesuatu tujuh hari lalu, dan kemarin gejalanya mulai terlihat?" ujar Daniella dan para dokter mengangguk.

"Apa mungkin senyawa itu tercampur di makanan para pengungsi? Tapi, bukankah kita juga memakan makanan yang sama dan belum ada laporan jika anggota tim medis, relawan, maupun militer yang merasakan gejalanya. " timpal salah seorang anggota PMI.

"Tapi, bukankah kita menggunakan dua sumber air yang berbeda?" Rama berujar pelan, namun hal tersebut sukses membuat atensi semua orang beralih kepadanya.

Srraakk

"Gawat, korbannya semakin banyak. Tempat pengungsian kacau! " suara mengejutkan itu berasal dari salah seorang relawan yang baru saja menyibak pintu tenda dengan tergesa.

Semuanya langsung berdiri dengan panik, tanpa pikir panjang mereka segera menuju kompleks tenda para pengungsi. Ada banyak kekacauan, beberapa orang kejang-kejang dengan mulut memuntahkan darah. Ada pula yang berteriak kesakitan sembari berguling-guling dengan memegang leher.

Para relawan berusaha keras menenangkan mereka. Sebagian dilumpuhkan menggunakan obat penenang. Sedang anggota TNI berusaha mengevakuasi anak-anak kecil yang hampir menjadi korban kekacauan di tempat itu. Tak sedikit orang tua yang terjangkit, hal ini mengakibatkan mereka susah mengendalikan diri dan berkemungkinan melukai orang lain.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk dapat mengkondisikan semuanya. Termasuk memindah beberapa korban yang telah menunjukkan gejalanya menuju ke tenda lain.
"Kapten Rama! " seru Daniella. Ya, ia sempat  bertanya pada salah seorang relawan Indonesia yang mengatakan jika Rama adalah pimpinan pasukan khusus yang diterjunkan oleh Angkatan Darat. Pria itu menoleh dengan wajahnya yang lebih terkesan datar. Karena memang begitulah dirinya.

"Ya, Dokter? "

"Ah, tolong, Daniella saja, " gadis itu meringis.

"Kalau begitu, cukup panggil saya Rama. " kalimat Rama sukses membuat Daniella tersenyum. Gadis itu pun mengangguk.

"Mm ... Rama, kau bilang sumber air yang kita pakai dan para pengungsi berbeda?"

"Iya."

"Bisakah kau mengantar saya ke tempat itu?" Rama pun langsung menyanggupi. Keduanya berjalan menuju ke bagian belakang tenda.

"Kita menggunakan air dari tandon, sedang yang lain menggunakan air yang di sungai. Ini karena jumlah para relawan yang jauh lebih sedikit dari para pengungsi, " sembari mendengar penjelasan. Daniella memilih mengambil sempel air tandon untuk di uji.

"Jarak ke sungai cukup jauh, apa tidak apa-apa?"

"Tidak masalah."

"Kau yakin? Jika tidak, saya bisa meminjamkan mobil?"

"Saya senang berjalan kaki. "

"Baiklah." Rama hanya memberi anggukan kecil. Keduanya pun segera menuju daerah aliran sungai yang menjadi sumber air bagi para pengungsi.
Perjalanan memakan cukup banyak waktu, mereka harus menuruni jalan terjal untuk bisa mencapai sungai. Satu-satunya sungai yang masih mengalir setelah gempa besar terjadi tujuh hari lalu.

"Oh, My God!" seketika Rama menoleh, ia mendapati Daniella yang sibuk membenarkan sepatunya. Rupanya, sebelah hak boot yang gadis itu kenkan patah.

"Mengapa kau memakai sepatu seperti itu di sini?" Rama tertawa kecil dan berjongkok.

"Saya hanya diberi waktu dua jam untuk bersiap. Itu terlalu singkat dan saya lupa membawa sepatu ganti," keluh Daniella. Lagi-lagi Rama mengulas senyum, tanpa diduga pria itu meraih sebelah kaki Daniella yang masih mengenakan boot berhak utuh. Dengan enteng, Rama mematahkan hak sepatu gadis itu. Akhirnya, boot yang gadis itu kenakan tak lagi memiliki hak.

"Aku akan menggantinya, tapi kau tak mungkin memakai boot dengan sebelah rusak 'kan? " Daniella mengangguk singkat dan mengulas senyumnya. Keduanya pun segera menuruni tebing dan menuju tepi sungai. Sesampainya di bawah, Daniella segera mengambil sempel air sungai dan memasukkannya ke dalam ransel yang ia bawa.

"Kita harus segera kembali, sudah terlalu siang. " Daniella mengangguk patuh. Mereka bergegas meninggalkan sungai. Namun, untuk sesaat, atensi Daniella sempat teralih pada suatu hal. Hanya sesaat, sebelum gadis itu memilih mengikuti langkah lebar Rama menaiki tebing.

Sesampainya di pengungsian, lagi-lagi kekacauan terjadi. Beberapa pengungsi mencapai periode kedua. Mereka mengamuk dan berteriak-teriak tak jelas. Sebagian kejang-kejang menuju periode ketiga. Daniella berusaha menenangkan salah seorang pasien, gadis itu lengah saat seorang pria berusaha berontak dicekalan seorang petugas. Pria itu mendorong rak yang penuh dengan peralatan medis tepat di samping Daniella.

Daniella pasrah saat rak itu hampir menimpanya. Namun, tanpa diduga seseorang melindunginya. Tiba-tiba saja, Rama sudah menggeser tubuhnya dan menepis rak itu menggunakan lengan tangan. Daniella membatu ditempatnya, ia dapat melihat darah mengalir dari luka di lengan pria itu.

"Rama ... " gumamnya pelan. Tanpa pikir panjang, pria itu menarik Daniella menjauh dari tempat pengungsian yang tak lagi kondusif. Di luar tenda, Daniella balik menarik tangan Rama menuju tenda medis. Gadis itu segera mencari kotak medis untuk menangani luka di lengan kiri Rama. Telaten, Daniella membersihkan luka tersebut, memberi antiseptik, hingga membalutnya dengan rapi.

"Bagaimana kondisi anak semalam?" tanya Rama memecah kesunyian.

"Ah, dia masih belum sadar. Mungkin besok pagi ... "

"Syukurlah. Hari ini kami akan mencoba menggali ke sana lagi. Kami yakin akan menemukan sesuatu, sebelumnya kami tak menemukan siapapun disana. Dan kemarin kami mendengar anak itu menangis ... "

"Apa itu tak aneh?"

"Itulah sebabnya, kami akan menggali lebih dalam. "

"Hati-hati. " ujar Daniella dengan senyum. Senyum tulus yang sukses menggetarkan hati seorang Rama Sanjaya.

***

"Sepertinya, kau memiliki hubungan khusus dengan si kapten itu, iya 'kan?" Misha menahan senyum saat menyadari rona merah di kedua pipi sahabatnya itu. Daniella tersipu, gadis itu hanya menggeleng dan berlalu ke dalam tenda. Memilih mendudukan dirinya di samping meja kerjanya yang penuh dokumen. Baru saja rombongan anggota TNI yang dipimpin Rama berangkat menuju titik yang diyakini masih ada korban yang terjebak reruntuhan. Sebelumnya, Rama juga pernah mengatakan jika ia akan menggali tempat dimana bocah cilik kemarin ia temukan.

Dari sekian foto yang sedang ia amati, sebuah foto berhasil menarik atensi Daniella. Dahinya berkerut dan alisnya mencuram. Ia menatap suatu keganjilan dari foto tersebut. Foto yang menampilkan hamparan semak di sekitar sungai. Dari sekian banyak semak yang layu, manik jeli Daniella dapat melihat corak kehijauan. Jika ia tak salah menerka, masih ada semak yang segar diantara semak yang telah mengering. Jika dingat-ingat, Daniella pernah melihatnya kala mengambil sempel air sungai bersama Rama. Namun, ia tak terlalu mengindahkannya. Untuk beberapa saat gadis itu terdiam sebelum akhirnya membereskan dokumennya dengan tergesa. Ia pun meraih ranselnya dan bergegas menuju tenda utama.

Di tenda utama, ia segera mendiskusikan hal tersebut kepada Dokter Abraham, penanggung jawab tim medis. Dokter Abraham pun memberikan respon yang positif. Ia segera menghubungi petugas yang membawa hasil uji air sungai untuk segera datang. Mereka menunggu hingga dua jam lamanya, tibalah petugas yang mengantarkan hasil uji laboratorium. Dokter Abraham, Daniella, dan petugas ahli lainnya mulai membuka file tersebut. Dari file hasil uji laboratorium itu, senyawa itu dipastikan terkandung di dalam air sungai.  Kini sudah diketahui penyebab dari penyakit tersebut. Inilah mengapa yang terjangkit hanyalah para pengungsi bukan anggota medis, relawan,  maupun anggota TNI.

Mengetahui hal tersebut, Dokter Abraham segera berkoordinasi dengan yang lain. Baik anggota TNI, PMI, maupun para dokter yang lain. Dengan cepat, beberapa anggota militer langsung memblokir jalan menuju sungai. Tak membiarkan satu warga pun mengambil air dari sana. Mereka juga menambahkan ekstra pengawalan di tempat itu. Warga yang belum menunjukkan gejala awal pun dipindahkan ke tenda lain, setelah beberapa tenda baru didirikan. Dari sekian hal yang telah dilakukan,  hanya ada satu hal yang masih belum tercapai. Ditemukannya penawar dari racun.

"Jika tebakanmu benar, kita harus melakukan penelitian ... setidaknya akan ada beberapa orang yang harus mencobanya." Daniella hanya dapat mengangguk. Semenjak ia melihat foto semak itu, Daniella berharap jika masih ada harapan untuk pembuatan penawar.

"Sebelum anggota TNI membersihkannya,  kita harus mendapatkan sempel tumbuhannya. " mendengar hal tersebut, Dokter Abraham pun meminta seseorang untuk mengecek tanaman itu. Sembari melakukan uji kecil-kecilan, mereka menunggu dokter lain untuk mengumumkan tentang bahan penawar itu.
Akhirnya, Daniella sedikit dapat bernapas lega. Satu persatu masalah mulai teratasi, anggota medis yang bertugas dalam pembuatan obat juga tengah berusaha keras mempertimbangkan komponen yang terkandung, setelah dipastikan tumbuhan itu dapat bertahan walau hidup di dekat air beracun. Di lain sisi, para tentara harus bekerja ekstra. Baik menjaga keamanan, sampai mencari bahan obat menuju ke hutan yang sebenarnya sudah mulai langka.

Kala itu, Daniella tengah mendudukan dirinya saat melihat Rama mengantarkan tiga orang yang menjadi korban bencana. Melihat Daniella di luar, pria itu mendekat dan mendudukkan diri samping gadis itu.

"Mereka selamat? " tanya Daniella dengan raut terkejut.

"Ya. Dan jika kau tahu, mereka keluarga bocah kecil yang kemarin."

"Namanya, Riza. "

"Ya, Riza. Mereka keluarga yang selamat setelah berada dalam bungker hampir sembilan hari ini. Untungnya, di sana ada persediaan makan. "

"Lalu kenapa hanya Riza yang bisa keluar? "

"Menurut ayahnya, kala mereka berusaha membuka pintu bungker, pintu itu tertimpa reruntuhan. Jadi hanya ada celah kecil yang tercipta. Dan hanya Riza yang bisa. " tutur Rama sebelum meneguk air mineral.
"Bungker? "

"Ya. Mereka keluarga Wijaya. Tuan Wijaya adalah pria yang mendirikan banyak pabrik besar di Indonesia. Ya ... dia seorang pengusaha sukses, " entah mengapa Daniella seakan menyadari perubahan raut Rama yang mendadak, kala membicarakan pria bernama Wijaya itu. Namun, Daniella tak ingin bertanya lebih lanjut.

Keduanya berbincang ringan tentang banyak hal, mulai dari kesan Daniella kala bertugas di Indonesia hingga cerita-cerita Rama saat ditugaskan di tempat itu dan masih banyak lagi. Saat mereka asyik bercengkerama, teriakan seorang wanita tiba-tiba saja terdengar dari tenda medis. Hal itu sontak membuat Rama dan Daniella menuju ke sana. Begitu mereka tiba, betapa terkejutnya kala melihat seorang wanita memegangi gunting bedah menancap di perutnya yang kini bersimbah darah. Wanita itu terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar. Sesaat, ia menoleh ke arah pria yang memangkunya dengan wajah pasrah, sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan Wijaya? " pria bernama Wijaya itu meletakkan kepala isterinya di lantai dengan perlahan. Ia bangkit berdiri dengan raut sedih. Di lain sisi, bocah bernama Riza, puteranya yang berada satu tenda itu telah sadar dan menangis tak karuan. Daniella sampai kerepotan menenangkannya.
"Isteriku ... isteriku tak terima jika kakak Riza meninggal, dia memiliih mengakhiri hidupnya. Aku gagal mencegahnya, " pria itu menunduk dengan raut menyesal. Sementara Rama hanya memandangnya dengan tatapan yang penuh arti. Tanpa banyak bicara, Rama segera memanggil petugas untuk mengurus jenazah wanita itu. Sementara Daniella langsung menggendong Riza ke tendanya.

***

"Rama, apa kau menyembunyikan sesuatu tentang Tuan Wijaya?" Daniella menghentikan langkah Rama menuju tenda anggota militer. Pria itu menoleh sesaat, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat menjawab, "Tidak. "

"Berhentilah berbohong, semenjak kau membicarakannya hingga insiden tadi siang, wajahmu menyembunyikan sesuatu ... "

"Itu bukan ranahmu." pria itu berujar dengan nada dingin, sebelum berlalu.
"Kau pasti belum tahu. Air sungainya positif tercemar senyawa beracun, " dan kalimat Daniella sukses membuat Rama menoleh. Karena sepanjang hari ia tak berada di area pengungsian, ia jadi tak tahu akan hal itu.

"Mungkin kita memiliki pemikiran yang sama, Rama! "

Rama melangkah tergesa ke arahnya dan menegang pundak gadis itu, "Dengarkan aku, Wijaya bukanlah pria baik-baik. Bisnisnya ... aku tak yakin semua bisnisnya legal. Dia terlalu licin. Tapi ... jika sampai ia memiliki hubungan dengan tercemarnya sungai. Dia mustahil lolos dari hukumannya. "

"Rama, itulah yang ingin kukatakan kepadamu. Aku yakin air sungainya tercemar limbah tertentu ... mungkinkah, limbahnya berasal dari penampungan limbah yang rusak akibat gempa? Itu mungkin saja, bukan? "

Rama tampak berpikir keras, pria itu mengambil walkie talkie miliknya dan mengatakan sesuatu pada seseorang. Ia kembali menoleh ke arah Daniella dengan raut serius, "Untuk saat ini, aku ingin kau menjaga Riza. Aku akan menyelidikinya bersama petinggi militer yang lain. " Daniella hanya bisa mengangguk patuh, menatap punggung Rama yang kian menjauh.

Daniella kembali ke tendanya, ia melihat Riza yang duduk sembari menatapnya, seakan menunggunya. "Kenapa Riza belum tidur?"

"Kakak Dokter ... " panggilnya pelan.

"Iya?" Daniella mendekat, ia duduk berbagi ranjang bersama bocah tersebut.

"Riza takut sama papa ... " seketika Daniella terhenyak. Namun, ia memilih mendengarkan kalimat Riza selanjutnya, " papa jahat ... papa ... "

"Papa membunuh mama-mu, bukan? Dasar bocah kurang ajar! " entah datang dari mana, Tuan Wijaya sudah berada di dalam tenda. Memegang sebuah pisau berkilat.

"Dokter, kau juga terlalu sok tahu. Ya, memang aku yang melenyapkan isteriku. Dia terlalu cerewet, mengatakan jika limbah pabrikku mencemari lingkungan. Hah, itu mustahil! " maniknya berkilat, menatap Daniella yang mendekap Riza dengan kuat.

"Sudah saya duga, apa yang isteri Anda bilang itu sangatlah benar. Limbah pabrik Anda mencemari aliran sungai, saat ini puluhan warga telah menjadi korbannya. Kau sepantasnya mengakui kejahatanmu itu! "

"Aaah, kau sama saja, banyak bicara! " Tuan Wijaya telah mengangkat belatinya, siap menghujamkannya. Namun, aksinya gagal kala seseorang menarik kerah pakaiannya. Membanting tubuhnya dengan kuat. Saat itulah, tiga buah sinar infra merah mengarah ke dahinya. Rama berdiri di depan ketiga anggota militer berseragam lengkap dengan senapan mematikan.

"Tuan Wijaya Hadi Sasmita, Anda ditahan karena kasus pembunuhan, percobaan pembunuhan, dan dugaan perusakan lingkungan yang merugikan masyarakat umum hingga menyebabkan kematian. " Rama bersedekap, membiarkan anggotanya meringkus pria tersebut. Hanya umpatan keras yang terdengar kala pria itu di gelandang petugas.

Kini, tinggal Rama dan Daniella yang berada di tempat itu. Sementara Riza telah dipindahkan oleh tim medis karena mengalami syok. Daniella hanya menunduk, tak berani menatap sosok Rama yang berdiri di sampingnya. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Rama menghela napas dan mendudukan dirinya. Dengan cukup berani, ia menyentuh pundak Daniella dengan lembut. Gadis itu pun menoleh

"Kau berusaha dengan keras. Penawarnya sedang dibuat dalam jumpah banyak. Dan pabrik itu sedang di periksa lebih lanjut. Terimakasih, Daniella. Kau sangat membantu negaraku ... " senyum lebar seorang Rama Sanjaya terkembang. Senyum terlebar yang pertama kali gadis itu lihat. Sungguh memesona.

"Negeri ini, memberikan banyak pengalaman untukku, aku takkan bisa melupakannya. Termasuk melupakanmu, Rama ... "

***

Hari itu suasana cukup cerah, rombongan dokter dari WHO akan melakukan perjalanan kembali ke Jenewa. Daniella duduk di samping Rama yang mengemudikan jeep tentara menuju bandara. Disana pesawat milik WHO menunggu.

Gadis itu menghela napas, menatap Rama yang memiliki tubuh sedikit lebih tinggi darinya. Tanpa kata, ia memberikan sebuah pelukan hangat pada pria itu. "Kuharap, kita akan bertemu lagi, dalam kesempatan yang lebih baik. "

Rama yang sebelumnya masih terkejut itu, akhirnya membalas pelukan gadis itu. Tak bisa dipungkiri, jika hatinya juga telah terisi oleh sebuah nama, Daniella. "Kuharap hal yang sama, Daniella. " keduanya melepas pelukannya, menyadari beberapa orang memandang mereka dengan senyum nakal.

"Hati-hati. Dan ... ini untukmu! " Rama memberikan sebuah kotak persegi panjang kepada gadis itu. Daniella menerimnya dan mengetahui jika sebuah sepatu ada di dalamnya.

"Seperti yang kujanjikan. " Daniella tertawa mendengarnya. Lagi-lagi ia menghadiahkan sebuah pelukan hangat. "Terimakasih."

Rama tersenyum, membiarkan gadis itu kembali ke asalnya. Meninggalkan hatinya yang telah dipenuhi namanya. Rama percaya, jika Tuhan mengkhendaki, ia akan dipertemukan kembali.

CERPEN | SAHARA

SAHARA - Women from Heaven

Bulir bening menetes dari sepasang kelopak dengan kelereng berwarna cokelat lembut. Bulu mata lentiknya dibasahi airmata. Sesenggukan, ia berusaha menahan isakan. Tangan gadis itu masih menggenggam erat tangan besar berlumur darah yang kian melemah. Aroma karat yang begitu kuat, menguar tertangkap penciuman. Mengabaikan darah yang masih deras mengalir, gadis itu mngeratkan genggaman pada sosok tampan yang tergeletak lemah di pangkuannya.
Tubuh kokohnya yang liat bermandikan darah dari luka menganga di bagian perut. Wajah yang terpahat tegas itu tampak pucat, kontras dengan lecet dan lebam yang dideranya. Bibir tipisnya yang membiru, membentuk segaris senyum samar. Seakan mengatakan, Aku baik-baik saja .... Si gadis masih terisak dengan sebelah tangannya yang berusaha kuat menekan pendarahan di perut sang pria.
“Kumohon, tetaplah terjaga!” ujarnya di sela isakan.
“Dave, Dave, terjagalah!” pria bernama Dave itu hanya dapat mengulas senyum. Merasakan nyeri yang kian menggila, menggerogoti dirinya. Dengan pandangan yang kian mengabur, ia dapat melihat wajah cantik gadisnya yang berlapis debu.
Gadisnya? Dave tertawa dalam hati. Sejak kapan gadis bak malaikat itu menjadi gadisnya. Ia bahkan tak tahu apakah perasaannya berbalas, atau sekadar perasaan sepihak. Sekali lagi Dave mengulas senyum, ingatannya berputar ke masa lalu. Bagaimana gadis itu memasuki kehidupannya yang dipenuhi kegelapan, membawa lentera yang berpendar terang.
****
Dave merutuki kejengahannya, dalam hati mengumpat keras saat melihat pria tua yang kini membungkuk-bungkuk memohon belas kasihan. Ia lelah harus berurusan dengan orang-orang semacam mereka. Pandangan Dave sedingin kutub, sedang mulutnya sibuk mengunyah permen karet yang telah kehilangan rasanya. Ia membungkuk, menjajarkan wajahnya dengan pria tua yang telah babak belur.
“Permintaanku sangatlah sederhana,” Dave masih menguyah, sementara pria tua itu semakin menggigil ketakutan. Intimidasi seorang Davian Stanley memanglah mengerikan. Dave mendengkus, dengan gerakan cepat ia meraup kerah leher pria tua tersebut.
“Berikan uangnya!” Dave mendesis, membuat pria tua itu hanya dapat menggeleng dengan cepat. Pikirannya kalut membayangkan nasib yang akan ia terima selanjutnya.
Bhuugghh
Tanpa diduga, sebuah pukulan begitu keras mendarat di kepala Dave, hal itu membuat cengkeraman tangannya terlepas. Dave meringis sembari menggeleng, mengusir rasa pusing. Ia mendongak sembari memegang kepalanya. Ingin mengetahui siapa yang begitu berani mencampuri urusannya.
Namun, tanpa diduga manik hijaunya malah bersinggungan dengan sepasang kelereng berwarna cokelat lembut yang memandangnya dengan raut ketakutan. Sungguh Dave tak dapat memahami perasaannya saat itu juga, kemarahan itu menguap begitu saja tatkala melihat wajah manis di depannya.
Atensi Dave beralih pada lembar kain panjang yang gadis itu gunakan untuk menutupi kepalanya. Sekali dua kali Dave pernah melihat orang berpenampilan seperti itu. Sejauh ini ia tak pernah ambil pusing, namun entah mengapa, kini dirinya diliputi rasa penasaran. Bagaimanapun juga, Dave tak dapat memungkiri kecantikan yang dimiliki gadis di depannya itu.
“Pergilah, Pak. Kau aman sekarang!” kalimat gadis itu sukses membuat lamunan Dave buyar, pria itu menggeram jengkel saat buruannya dilepas begitu saja. Sungguh gadis itu tak tahu akan kesalahan yang baru saja ia buat. Pria itu mendekat, meraup lengan mungil yang berbalutkan lengan panjang hingga ke pergelangan tangan.
Gadis itu sontak mengibaskan tangannya, maniknya kini menatap nyalang pada pria yang dinggapnya begitu bejat, menghajar pria tua tak berdaya. “Kau telah membuat kesalahan, Nona!” ujar Dave, berusaha keras menahan amarahnya.
“Aku tak membuat kesalahan apapun, kami tidak pernah diajarkan untuk melukai sesama manusia, sepertimu!” Dave mengangkat sebelah alis, menyadari suatu hal. Ia menelengkan kepala sembari mengulas senyum miring. “Apa yang Dia ajarkan padamu?”
“Cinta dan kasih sayang, keimanan dan jalan kebenaran.” Seketika Dave terbahak. Memandang gadis muslim di depannya tersebut. “Apa yang kau dapatkan dengan mengikuti jalan kebenaran?” giliran gadis itu tertawa, tawa pelan yang sukses menghipnotis seorang Davian Stanley.
“Kedamaian dan kebahagiaan yang abadi,” tatapannya melembut kala mengatakan kalimat tersebut. Dave tercenung, dalam hati merutuk, adakah kedamaian yang mungkin dapat ia peroleh juga. Pria itu bahkan bergeming tak acuh saat gadis itu berlalu meninggalkannya. Ia hanya dapat memandang punggung gadis itu yang kian menjauh.
“Dapatkah aku memilikinya juga?” kalimat Dave sukses membuat gadis berjilbab itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh, membuat hijabnya yang menjuntai berkibar dengan lembut. “Kau akan mendapatkannya setelah melalui jalan kebenaran milik Tuhan.”

***
“Hai!”
“Astaghfirullahhalazim!”
Dave mengulas senyum lebar melihat wajah terkejut dari gadis di depannya itu. “Bagaimana kau mengetahui rumahku?” tanyanya dengan raut terkejut. Dave hanya mengulas senyum miring sembari menjulurkan tangannya. “Dave, Davian Stanley,” bukannya menjawab, Dave malah memperkenalkan dirinya. Gadis itu hanya memandangnya dengan raut datar, sedetik kemudian ia menghela napas panjang dan mengulas senyum tipis.
Tanpa menyambut uluran tangan Dave, gadis itu memilih menyatukan kedua telapak tangannya dan memperkenalkan diri, “Sahara, Sahara Shiha.” Dave pun menarik tangannya yang mengambang dengan hampa. Mengulas senyum sembari mengangguk-angguk.
“Kau merawat tokomu dengan baik,” Dave menatap sekeliling, toko bunga mungil yang begitu indah dan tertata, harum bunga menguar memenuhi penciuman. Kemudian, atensinya beralih pada sebuket tulip berwarna putih yang berada di sisi kiri. “Cantik,” pria itu menghirup aroma yang menguar dari setangkai tulip yang ia genggam. Sepasang maniknya sibuk memandang Sahara yang tampak tak acuh.
Dan dari pertemuan itulah Dave mulai mengenal Sahara. Ada sesuatu yang membuat pria itu tertarik padanya, sesuatu yang berbeda. Dimata Dave, Sahara tampak begitu berkilau, kontras dengan dirinya yang diselimuti kabut kegelapan. Ada rasa asing yang menyusup dalam relung hati seorang Davian Stanley tatkala netra cokelat lembut itu bersinggungan dengan kelereng hijau miliknya. Apalagi saat segaris senyum terbit dari bibir mungil yang ranum tanpa pewarna itu.
Tanpa sadar, rasa asing itu tumbuh kian subur. Terbersit keinginan Dave untuk mendapatkan Sahara. Mengklaim gadis itu sebagai miliknya. Namun, suatu hal sukses membelenggu keinginan tersebut. Dave berusaha bercermin, dengan kehidupannya saat ini, ia bahkan takkan mampu memberikan kebahagiaan untuk gadis itu. Ia sadar, dunianya dan Sahara teramat berbeda.
Davian Stanley, di dunia bawah siapa yang tak mengenal nama tersebut. Bounty Hunter satu ini sungguh ditakuti di seluruh penjuru dunia bawah Amerika. Pekerjaannya selalu bersih tanpa jejak, kepolisian tak pernah bisa menyentuhnya. Entah dengan keberuntungan seperti apa, ia bisa lolos dari kejaran kepolisian bahkan badan intelijen nasional. Sampai saat ini pun, pihak berwajib belum pernah bisa mengetahui rupanya.
Tiada pantas baginya untuk bersanding dengan Sahara, gadis berhijab yang menjalankan kehidupannya di atas jalan kebenaran. Hamba Tuhan yang selalu taat dan tak pernah ingkar. Ia menyadari posisinya, ibarat tempatnya di  jurang terdalam neraka, sedang gadis itu berada dalam istana surga. Ia ditemani jilatan api neraka, sedangkan gadis itu dikelilingi cahaya yang berpendar indah.
Namun, semakin lama Dave memendam perasaannya, semakin besar pula kecintaannya terhadap gadis muslim tersebut. Hari itu, Dave membulatkan tekadnya untuk menemui gadis yang selalu mengisi relung hatinya.
***
“Nyanyianmu sungguh indah,” celotehan itu membuat Sahara menghela napas dan menggelang pelan. Ia menoleh, mendapati seseorang telah berdiri bersandar di ambang pintu kamarnya. Ia satukan keningnya dan sampul kitab sucinya sebelum menaruhnya di meja yang cukup tinggi. Baru saja ia menyelesaikan bacaan Al-Quran-nya.
“Sepertinya, aku mulai terbiasa dengan kedatanganmu yang tiba-tiba dan tanpa permisi, setidaknya ucapkanlah salam padaku,” siapalagi kalau bukan Dave. Ya, pria itu selalu saja datang dan masuk ke rumahnya sesuka hati. Pria itu hanya tersenyum dan mendudukan dirinya di single sofa berwarna cream. Memerhatikan aktivitas gadis di depannya, melipat kain yang ia gunakan untuk sembahyang.
“Apa yang kau nyanyikan barusan?”
“Aku tidak menyanyi, hanya melantunkan ayat suci Al-Quran.”
“Al-Quran?” Dave membeo.
“Ya, dia yang memberitahu kami jalan kebenaran untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian?”
“Dapatkah manusia sepertiku mendapatkan kedamaian juga?” entah mengapa, Dave begitu penasaran. Ia bahkan tak sadar telah mengulang pertanyaan yang pernah ia lontarkan. “Jawabanku masih sama,” Sahara berujar dengan senyum, membuat Dave mengangkat alis sembari menyeringai.
“Ajarkan aku untuk mendapatkannya!”
Dan entah bagaimana, hari itu Dave dan Sahara menghabiskan waktu bersama. Mulai dari mengunjungi Islamic Cultural Center di Manhattan, berkeliling di tempat-tempat berbau islam hingga berbincang banyak hal di taman kota sembari menikmati ice cream di musim panas yang terik. Disitulah Dave semakin mengetahui kecerdasan yang dimiliki gadis muslimah itu. Betapa kayanya ia akan ilmu pengetahuan.
Dipandangnya Sahara yang begitu asyik menikmati ice cream berasa strwberry favoritnya. Segaris senyum terbit di wajah manis itu tatkala menyadarai Dave tengah memandangnya. Dave tersenyum, sungguh ia bertekad melindungi senyum manis yang terlukis di wajah gadis itu. Dalam hati ia berjanji takkan membiarkan senyum itu luntur.
Sepertinya, janji hanyalah menjadi janji. Tak lama waktu berselang, hamburan peluru menginterupsi perbincangan mereka. Seketika suasana menjadi kacau, pengunjung taman berlarian panik, tak sedikit para wanita berusaha menyelamatkan anaknya. Sahara menjerit histeris saat seorang gadis kecil tumbang dengan kepala berlubang, tepat di depan matanya. Tangan gadis itu bergetar, kakinya lemas juga gemetar seakan tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri.
Sigap, Dave meraih tubuh gadis itu agar tak jatuh. Tanpa pikir panjang, ia membopongnya dan berlari menjauh dari kekacauan. Sebelah tangan Dave bergerak merogoh saku jaket, mencari partner setianya. Namun, gerakannya seketika terhenti saat tangan Sahara menahan lengannya.
“Kau berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dan mengikuti jalan kebenaran,” gadis itu berujar lemah. Berusaha mencegah Dave untuk tidak lagi membunuh.
Pria itu mengembuskan napas panjang. Melonggarkan pegangannya pada gagang pistol maut kesayangannya. “Aku tak bisa membiarkan mereka menyakitimu,” ujar Dave dengan raut menyendu. “Lalu, apa bedanya mereka dengan dirimu jika kau juga melukai mereka,” Dave menggeram, berusaha mengontrol amarah. Keinginannya hanya melindungi gadis itu, cukup, hanya itu saja. Ia tak peduli dengan nyawa orang lain, apalagi dirinya.
DOR
Lengah, satu peluru bersarang di lengan kokoh milik Dave. Pria itu hanya meringis kecil, seakan tak ambil pusing dengan perih yang mulai terasa. Seiring dengan darah yang mulai deras mengalir. Ekspresi lain ditunjukkan oleh Sahara, wajah gadis itu berubah pias dengan bulir keringat dingin yang mengalir. Pandangannya kosong, syarat akan ketakutan dan syok yang cukup hebat.
Dave mengguncang pelan bahu Sahara, berusaha menenangkan gadis tersebut. “Sahara, sadarlah. Hei, Aku baik-baik saja!” hanya gelengan kecil sebagai respon yang Dave terima, sepertinya gadis itu sungguh terguncang.
Dave menyadari siapa musuhnya, ia tak dapat tinggal diam. Jika ia terlalu lama di tempata terbuka, maka janjinya untuk menjaga Sahara benar-benar akan berakhir sebagai janji belaka. Tak memedulikan Sahara yang kini panik akan luka tembak yang ia alami, Dave memilih membopong Sahara untuk mencari tempat berlindung. Akhirnya keduanya memasuki sebuah kafe yang kini tak berpenghuni akibat serangan peluru tersebut, dipastikan seluruh pegawai dan pelanggannya telah melarikan diri.
Dave mendudukkan Sahara di belakang counter table berwarna cokelat gelap. “Berjanjilah padaku Sahara, tetaplah disini, aku takkan membiarkan mereka menyakitimu, okay?” Sahara hanya mengangguk tipis dengan pandangan yang masih tak fokus. Namun, baru saja Dave hendak berlalu, gadis itu segera menahan lengan Dave. Dipandanganya pria itu dengan raut sendu, “Kau pun harus berjanji, jangan bunuh siapapun demi diriku, kumohon Dave!” ujaranya memohon.
Dave menelan ludahnya susah payah, sungguh permintaan Sahara teramat berat baginya. Di satu sisi ia akan melindungi gadis itu dari semua bahaya yang ada. Di sisi lain, ia ragu, dapatkah ia melindungi gadis itu tanpa membunuh siapapun?
Dave berpikir keras, menyusun strategi, bagaimanapun ia takkan membiarkan Sahara terluka. Itulah misinya, namun senyum sahara juga menjadi prioritas penting yang harus ia jaga. Akhirnya, dengan berat hati Dave mengangguk, “Aku berjanji!” ujarnya kemudian, tanpa ragu.
Sahara hanya dapat menutup telinganya kuat-kuat saat Dave meninggalkannya dan melawan musuh-musuhnya. Bibir gadis itu tak berhenti melafalkan doa-doa kepada Tuhan berharap pria itu selamat. Suara baku hantam terdengar gamblang di telinga Sahara, dentingan kaca, hingga suara keramik yang diadu, sungguh membuat seluruh tubuh gadis itu merinding.
Detik berlalu dengan cepat, menit pun bergulir, pertarungan masih terjadi. Sahara tak paham, entah siapa yang menjadi lawan Dave. Hingga suara ledakan pistol terdengar begitu nyaring memekakkan telinga. Jantung Sahara berdegup kencang, seiring dengan suasana yang berubah hening. Perlahan tapi pasti, Sahara bangkit berdiri. Perlahan ia menoleh ke belakang, berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Dan begitu terkejutnya gadis itu dengan pemandangan yang ia lihat. Reflkes, ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Bagaimana tidak, hal yang dilihatnya sungguh mengerikan. Seluruh isi kafe telah hancur berantakan, piring dan cangkir pecah berhamburan. Cairan berwarna merah kental menggenang di beberapa tempat, menguarkan aroma karat menjijikan.
Pandangan Sahara menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga maniknya tertuju pada sosok yang tergeletak tak jauh dari dirinya berpijak. Darah menggenang di sekitar tempatnya terbaring. Sontak, Sahara berjalan cepat ke arah sosok tersebut. Tanpa pikir panjang, dipangkunya kepala pria yang tak lain adalah Dave.
“Kumohon, tetaplah terjaga!” “Dave, Dave, terjagalah!”
Pandangan pria itu mulai meredup, hal itu membuat Sahara menggeleng kuat-kuat. Ada rasa tak rela yang begitu kuat dan sakit saat melihat pria itu terkapar tak berdaya. Tanpa sadar, Sahara merindukan sosok tengil Dave yang selalu mengganggunya.
“Kau berjanji akan menjadi orang yang lebih baik, Dave!” Sahara berteriak, masih berusaha menekan luka tembak di perut pria tersebut. Tak lama setelah itu, serombongan polisi bersenjata lengkap berjalan ke arah mereka.
“Nona, dia adalah seorang kriminal, dia penjahat internasional. Menjauhlah!” Sahara menggeleng dan menepis kasar tangan salah seorang opsir polisi.
“Tidak!”
“Sahara ...” Dave berbisik pelan, “setidaknya aku tidak melanggar janjiku padamu ... biarkan aku pergi dan menebus kesalahanku,” ia berucap terbata, sudut bibirnya bahkan mengalirkan darah dari dalam tubuhnya. Pria itu mulai kesulitan bernapas. “Tuntun aku di jalan Tuhanmu, Sahara!” dan kalmat itu sukses membuat Sahara terbelalak.
Mungkin inilah saat dan jalan yang paling tepat untuk Dave, dengan pelan Sahara menutun Dave mengucapkan dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya. Dan akhirnya, Dave pun menjemput kedamaian yang didambakannya. Saat itulah Sahara menyadari rasa asing yang menyusup ke dalam kalbunya. Rasa yang orang kenal dengan istilah cinta.

CERPEN | ARETTA

ARETTA

“Kak Iqbal udah nunggu lama?” tanya Retta sesaat ia keluar dari gerbang.
“Belum kok, mau langsung pulang?” Iqbal menjawab kalem.
“Mampir makan dulu bisa? Retta laper.”
“Bisa, ke tempat biasa aja, ya?”

Aretta hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia langsung memakai helm kemudian menaiki motor biru Iqbal. Sekitar pukul empat sore mereka sampai di warung makan yang sudah menjadi langganan. Aretta segera turun dan memesan dua porsi gado-gado pedas untuk dirinya dan Iqbal. Setelah itu mereka mencari tempat duduk ternyaman yang tidak lama kemudian pesanan mereka sudah siap.

“Tadi kamu diliatin temen-temen kamu waktu aku jemput, nggak malu?” Iqbal sesekali bertanya agar suasanya tidak canggung.
“Malu? Emang kenapa?”
“Kan aku sekolah di SMK yang bisa dibilang pinggiran tapi, kamu sekolah di SMA favorit.”
“Retta nggak pernah malu, selama kita nggak berbuat salah buat apa malu?” kata Retta jelas.
“Nggak pernah sekalipun kamu ngerasa nyesel udah milih aku?”
“Retta malah bangga udah milih Kak Iqbal.” Retta tersenyum manis yang selalu membuat Iqbal candu.

Matahari mulai kembali ke peraduannya dan sebentar lagi maghrib pun tiba. Setelah selesai makan, Iqbal langsung membayar dan pulang bersama Aretta. Rumah mereka bersebelahan namun, Iqbal tak pernah mengantarkan Aretta sampai depan rumah karena ada orang tua yang menentang. Mereka tidak sepaham, latar belakang keluarga Aretta dicap buruk oleh keluarga Iqbal dan itu menyebabkan hubungan mereka harus dirahasiakan.

“Retta, maaf aku cuma bisa nganter sampai sini.” Iqbal merasa bersalah.
“Iya, Retta paham kok. Nanti malam jangan lupa chat, ya?”
“Oke, siap!”

Mereka berpisah di pertigaan sebelum komplek rumah mereka. Iqbal pulang duluan dengan motor birunya dan Aretta terpaksa berjalan sendiri sekitar lima ratus meter untuk sampai ke rumahnya.

***

“Aretta, bangun Nak, sudah subuh.”
“Baik bu.”

Aretta segera bangun dan langsung melaksanakan salat subuh berjamaah dengan keluarganya. Setelah itu, ia bersiap-siap untuk sarapan bersama.

“Aretta, nanti di rumah sendiri, ya? Ayah harus pergi dan Ibumu akan ikut.”
“Oke.”

Ia segera menggunakan sepatu converse-nya ketika sarapan selesai. Aretta menunggu Iqbal hari ini di depan rumah karena orang tuanya sudah pergi tadi. Jadi, tidak masalah bertemu di sini.

“Aretta!” panggil Iqbal.
“Hai, Kak!”
“Sekarang kamu ulang tahun, kan?” Iqbal bertanya lagi.
“Eh, iya. Aretta lupa kalau hari ini ulang tahun.”
“Kamu pengin apa? Aku beliin, deh.”
“Aretta pengin novel! Kita ke gramedia, ya, Kak?”
“Oke, let’s go!”

Sabtu pagi itu, mereka langsung melesat pergi ke Gramedia terdekat. Sesampainya disana, Aretta masuk mendahului dan Iqbal hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis itu.

“Kak Iqbal mau beliin Aretta berapa novelnya?” Aretta bertanya setelah melihat-lihat novel yang tertata rapi di rak.
“Terserah, kamu mau berapa?”
“Dua, boleh?” Aretta menunjukkan dua novel bersampul biru dan satunya lagi pink.
“Tiga juga boleh, kok.”
“Enggak deh, kasian Kak Iqbal. Satunya Aretta beli pakai uang sendiri aja, nanti uangnya Kak Iqbal abis.”
“Ya udah, terserah kamu.” Iqbal mengalah, karena jika masalah seperti ini Aretta tidak akan mau mengalah, pasti ngotot mau beli pakai uang sendiri. Jadi, daripada memperpanjang masalah lebih baik diam.
“Abis ini kita ke timezone, ya, Kak? Mau nggak? Mau ya ...?” mohon Aretta.
“Iya, sini aku bayar dulu novelnya.” Iqbal berjalan menuju kasir dan Aretta berjalan membuntuti di belakang.

Bugh

Tidak sengaja Aretta menabrak bapak-bapak yang juga sedang berjalan menuju kasir bersama istrinya, sepertinya bapak itu sedang terburu-buru sampai tidak memperhatikan jalan. Iqbal yang mendengar itu segera berbalik dan menolong Aretta bangun.

“Ada yang sakit?” tanya Iqbal memastikan.
“Tidak. Saya minta maaf Pak, saya tidak sengaja.”
“Ya, tidak apa-apa. Maaf, saya sedang terburu-buru.” benar ‘kan dugaan Aretta. Tapi, tunggu sebentar Aretta seperti mengenal bapak dan ibu itu, namun siapa?
“Iya Pak, sekali lagi maaf.” Aretta memperhatikan wajah bapak itu dengan cermat sekali lagi setelah bapak itu tidak menunduk.
“Aretta? Ngapain kamu disini?”
“Ayah? Bukannya Ayah ada urusan?”
“Ayah mencari buku yang diinginkan atasan Ayah, kemudian akan langsung ke luar kota untuk rapat penting. Kamu kesini sama siapa?”
“Hai, Om! Aretta kesini bersama saya,” Iqbal menjawab duluan dan menyalami tangan Aldi-ayah Aretta.
“Oh, kalian berdua saja?”
“Iya, Om. Maaf lancang, tadi nggak izin Om dulu.”
“Ya, baiklah. Setelah ini kau antar Aretta pulang. Dan untuk Aretta, kau tidak boleh keluar rumah sebelum Ayah dan Ibu pulang.”

Aldi segera meninggalkan mereka dan menuju kasir. Sedangkan Aretta masih mematung mendengar perkataan Ayahnya tadi. Ia tidak menyangka akan ketahuan seperti ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat Ayahnya pulang. Iqbal pun sama, ia bingung dengan dirinya sendiri bisa seberani itu berbicara dengan Ayah Aretta.

“Mau pulang sekarang?” Iqbal bertanya pada Aretta setelah mereka keluar dari Gramedia.
“Sekarang aja, Aretta pengin sendiri.”

Kemudian mereka pulang dengan keadaan canggung. Tidak ada yang mau mengawali berbicara sama sekali. Aretta membisu dan Iqbal kalut dengan pikirannya memikirkan apa yang harus ia jadikan alasan nanti.

“Aretta?” Aretta terkejut dengan panggilan Iqbal karena sejak tadi ia melamun.
“Iya, Kak? Eh, udah sampai. Aretta masuk dulu, ya, Kak. Makasih novelnya.”
“Sama-sama. Jangan lupa salat, makan juga.”

Aretta hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Iqbal. Bagaimana hubungannya dengan Iqbal nanti, akankah tetap baik-baik saja seperti tidak terjadi sesuatu? Tidak mungkin, keluarganya jelas menentang hubungan ini apalagi keluarga Iqbal? Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan nanti pada Ayahnya?
Aretta mengurung diri di kamar memikirkan itu semua hingga malam tiba pun ia tidak sadar. Ketokan pintu membuat ia harus keluar kamar dan membukakan pintu, Aretta sudah menduga siapa yang datang. Ya, Ayahnya sudah pulang dan itu artinya ia harus siap dihujani berbagai pertanyaan.

“Aretta, akhiri hubunganmu dengan Iqbal secepatnya.” Ucap Aldi setelah masuk rumah dan duduk di ruang tamu.
“Tapi, Yah?”
“Enggak ada tapi, pokoknya besok kamu udah gak ada hubungan apapun dengan Iqbal. Keputusan Ayah tidak bisa diganggu gugat.” jelas Aldi.

Aretta segera masuk ke kamar dan kembali menangis. Ia serasa tidak tahu apa alasan atau penyebab orang tuanya tidak sepaham dengan keluarga Iqbal dan tidak merestuinya.
"Aretta harus ketemu Kak Iqbal besok. Sekarang lebih baik tidur biar besok bisa lebih kuat menghadapi kenyataan."

***
Paginya Aretta sudah siap dengan jaket dan celana training hitamnya kemudian keluar rumah menunggu Iqbal. Semalam ia sudah memberitahu Iqbal untuk bertemu pagi ini di taman membicarakan hubungan mereka akan seperti apa kedepannya.

"Kak Iqbal, hai! " sapa Aretta saat Iqbal keluar rumah menggunakan kaos hitam dan celana training hitam pula. Aretta diam mematung melihat Iqbal yang entah karena apa terlihat sangat tampan pagi ini.
"Oh, hai! Langsung jogging?"
"Bo-boleh."

Tepat pukul enam mereka berlari menyusuri komplek dan sesekali Aretta tertawa kala Iqbal melontarkan suatu candaan.

"Udah capek? Mau makan? " tawar Iqbal saat
mereka sudah lumayan lama berlari.
"Bubur ayam, ya?"
Iqbal mengangguk sabagai jawaban. Mereka segera menuju gerobak penjual bubur ayam yang ada di sekitar komplek. Kali ini Iqbal yang memesan bukan Aretta seperti biasa.
"Kamu baik-baik aja? " Iqbal bertanya memastikan kondisi Aretta.
"Hem, Kak Iqbal sendiri? Orang tua udah tau? " Aretta balik bertanya sembari memakan bubur ayamnya.
"Iya, udah. Terus mau gimana?"
"Apanya gimana? " Aretta bersikap sok polos
"Mau sampai sini aja?" Iqbal mulai tegas.
"Ya,  terserah. Aretta ikut aja."
"Aretta! Tolong,"
"Aretta gak tau mau gimana, Kak! Aretta bingung, Aretta harus apa?" mata gadis itu mulai memerah.
"Orang tua udah tahu, apa bisa kita kayak gini lagi? "
"Ya udah, Aretta ikut aja. Kak Iqbal mau gimana,"
"Aku gak bisa sampai disini aja, tapi aku juga gak bisa nentang orang tua."
"Terus, Kak Iqbal mau gimana?”
"Kita break dulu, bisa?"
"Kak Iqbal gak mau usaha dulu ngeyakinin orang tua? Aretta yakin bisa bujuk ayah buat restuin,"
"Susah Aretta, kita cuma break sebentar. Aku bakal cari cara bagaimanapun itu biar bisa balik lagi kaya sekarang. "
"Kak... " air mata Aretta mulai meluncur.
"Jangan nangis, aku gak suka liat kamu nangis. "
"Oke, kalau itu mau Kak Iqbal kita sampai disini aja. " ucap Aretta dan gadis itu langsung keluar meninggalkan Iqbal sendiri.
Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan mereka setelah pagi ini. Aretta harus tetap bisa semangat menjalani penilaian akhir semester dengan suasana hati yang bisa dikatakan buruk. Begitupun Iqbal, ia harus pintar menyembunyikan wajahnya yang kusut saat menerima hasil ujian empat hari lagi.

****

“Iqbal, udah selesai urusannya?” Bunda Zahra bertanya pada anak sulungnya.
“Udah, Bun.”
“Baguslah, besok Bunda dan Abah yang akan datang mengambil hasil ujian kamu.”
“Iqbal takut mengecewakan, Bun.”
“Apapun hasilnya yang penting kamu udah berusaha semaksimal mungkin.” Bundanya selalu bisa menenangkan hati Iqbal.
“Makasih, Bun.”

Kemudian Bundanya keluar dari kamar Iqbal dengan senyuman. Laki-laki itu membuka ponselnya melihat foto terakhir Aretta bersamanya, hampir satu tahun mereka berhubungan dan akhirnya tepat pagi tadi hubungan mereka berakhir. Iqbal membuka laptopnya dan memindah semua foto Aretta ke dalamnya. Ia akan mengedit foto-foto itu selama hari liburnya yang kebetulan sesuai dengan bakatnya  sembari menunggu hari Kamis saat diumumkannya hasil ujian.

“Iqbal! Makan malam, nak.” Bundanya memanggil dari arah ruang makan dan tidak ada jawaban. Terpaksa Bundanya harus masuk ke kamar Iqbal dan dilihatnya putranya tertidur dengan laptop yang masih menyala menampilkan sosok foto Aretta saat pulang sekolah.
“Iqbal, bangun. Makan dulu, udah ditunggu Abah di luar.”
“Hah? Iya, Bun.” Iqbal segera terbangun dan menutup laptopnya cepat takut Bundanya melihat apa yang sedang ia kerjakan.
“Bunda tunggu di ruang makan, kamu langsung keluar, ya?”
“Oke, Bun.”

Iqbal segera mencuci mukanya agar segar dan berganti pakaian, sedari tadi pulang Iqbal langsung menatap laptopnya hingga malam ini dan ketiduran. Ia berharap Bundanya tidak melihat foto Aretta yang ada di laptopnya tadi. Setelah selesai, Iqbal langsung keluar menuju ruang makan dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul tinggal dirinya seorang.

“Iqbal yakin dengan hasil ujian besok?” Abah bertanya.
“Insyaallah, Bah.”
“Oke, hubungan kamu dengan Aretta sudah berapa lama?”
“Hampir satu tahun,” Iqbal menunduk takut menatap wajah Abahnya.
“Udah berani bohongin orang tua kamu?”
“Udah, Bah. Kita lagi makan, bahas itu nanti aja. Lagian Iqbal juga lagi masa remaja, wajar kaya gitu.” Bundanya menengahi mereka.
“Udah Bunda, gak usah belain Iqbal. Kalau salah ya salah!”
“Iqbal udah selesai makan, mau balik ke kamar dulu.”

Iqbal langsung masuk ke kamar dan duduk di meja belajarnya memikirkan kesalahannya. Apa ia sebegitu salahnya sampai Abahnya berkata seperti itu? Ia berpikir apakah dirinya akan menjadi anak durhaka? Tidak! Itu tidak boleh terjadi, setelah berkutat lama dengan pemikirannya, Iqbal memutuskan untuk tidur. Ia lelah dengan semua ini.
***
“Aretta! Besok Senin kamu ada ujian ‘kan? Ayah mau nilai kamu maksimal untuk kali ini, ayah tidak mau lagi menerima hasil ujian kamu dengan peringkat kedua.” tegas Aldi saat masuk ke dalam kamar Aretta.
"Aretta sakit, Yah.”
“Ya sudah, sekarang minum obat terus tidur, besok pagi bangun awal, belajar lagi.”
“Baik, Yah.”

Aretta mengambil obat yang biasa ia simpan di laci meja belajar kemudian meminumnya dan bergegas tidur. Ayahnya hanya memandanginya dari pintu kondisi putrinya. Aldi merasa bersalah membuat keputusan seperti itu namun, hanya itu juga yang bisa ia lakukan untuk anak semata wayangnya.

Paginya, Aretta sudah siap berangkat sekolah diantar oleh Ayahnya. Entah sengaja atau kebetulan, Aretta melihat Iqbal di depan rumah saat bersiap-siap untuk lari pagi. Setidaknya, Aretta mersa lebih bersemangat setelah melihat senyum menawan Iqbal.

Waktu berlalu begitu cepat, Aretta telah menyelesaikan penilaian akhir semester itu dengan baik dan Iqbal pun sudah menerima hasil ujian yang cukup memuaskan. Pada sore hari setelah penerimaan hasil ujian, mereka bertemu di taman. Aretta mengucapkan selamat pada Iqbal dan Iqbal sekalian berpamitan pada Aretta bahwa mulai Senin besok ia mulai bekerja di luar pulau.

“Jadi, Kak Iqbal bakal dikirim dari sekolahan sebagai perwakilan karena nilai Kak Iqbal bagus?”
“Ya, kurang lebih seperti itu. Jadi, aku mau pamit sekalian sama kamu.”
“Oh, take care, ya, disana. Maaf gak bisa ngasih apa-apa buat salam perpisahan.”
“Gak usah, dengan kamu selalu senyum disini aku udah seneng kok.”
“Kak ....” mata Aretta mulai memerah.lagi.
“Jangan nangis, aku cuma sebentar. Disana aku bakal cari cara gimana biar kita bisa balik lagi kaya dulu, ok?” Iqbal menenangkan Aretta dan memeluk gadis itu.
“Iya, tetap kabarin Aretta, ya, Kak?”
“Kalau pekerjaan udah selesai, aku usahain. Udah, jangan nangis lagi.”

Begitulah kisah mereka sampai sore ini, masih menyimpan rasa satu sama lain dan masih selalu mendoakan dari kejauhan juga menitipkan rindu pada bintang berharap bintang akan menyampaikan. Tanpa disadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan melihat semua kejadian sore itu.

***
2 tahun kemudian
Pagi itu, Aretta bersiap untuk pergi kerja kelompok bersama temannya namun, saat membuka pintu rumah ia dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki memakai hoodie hitam di depan rumah.

“Aretta.” Panggil laki-laki itu.
“Siapa?” Arette merasa sedikit takut dengan pria misterius ini.
“Iqbal.” Iqbal menjawab seraya membuka topi yang digunakannya untuk menutupi wajahnya.

Sontak, Aretta terkejut dan langsung memeluk Iqbal. Ia merasa sangat bahagia bisa melihat kembali sosok Iqbal yang ia rindukan selama ini.

“Kak Iqbal kapan pulang?”
“Kemarin sore, dan aku mau nepatin janji aku ke kamu dulu.”
“Janji?”
“Aku akan lamar kamu nanti sore.”
“Oh. Hah? Apa? Gak salah dengar aku?”“Enggak, orang tua kamu juga udah kasih restu. Ternyata mereka diam-diam merencanakan ini semua sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke-tujuh belas.”
“What? Seriously?” Aretta tidak percaya ini semua.
“Iya, serius. Aku pun kaget semalam waktu Abah bilang seperti itu.”
“Aku seneng banget, Kak. Ini merupakan kado paling indah yang pernah kuterima. Terimakasih.” Aretta kembali memeluk Iqbal dan kali ini Iqbal membalasnya.