Jumat, 08 Februari 2019

CERPEN | SAHARA

SAHARA - Women from Heaven

Bulir bening menetes dari sepasang kelopak dengan kelereng berwarna cokelat lembut. Bulu mata lentiknya dibasahi airmata. Sesenggukan, ia berusaha menahan isakan. Tangan gadis itu masih menggenggam erat tangan besar berlumur darah yang kian melemah. Aroma karat yang begitu kuat, menguar tertangkap penciuman. Mengabaikan darah yang masih deras mengalir, gadis itu mngeratkan genggaman pada sosok tampan yang tergeletak lemah di pangkuannya.
Tubuh kokohnya yang liat bermandikan darah dari luka menganga di bagian perut. Wajah yang terpahat tegas itu tampak pucat, kontras dengan lecet dan lebam yang dideranya. Bibir tipisnya yang membiru, membentuk segaris senyum samar. Seakan mengatakan, Aku baik-baik saja .... Si gadis masih terisak dengan sebelah tangannya yang berusaha kuat menekan pendarahan di perut sang pria.
“Kumohon, tetaplah terjaga!” ujarnya di sela isakan.
“Dave, Dave, terjagalah!” pria bernama Dave itu hanya dapat mengulas senyum. Merasakan nyeri yang kian menggila, menggerogoti dirinya. Dengan pandangan yang kian mengabur, ia dapat melihat wajah cantik gadisnya yang berlapis debu.
Gadisnya? Dave tertawa dalam hati. Sejak kapan gadis bak malaikat itu menjadi gadisnya. Ia bahkan tak tahu apakah perasaannya berbalas, atau sekadar perasaan sepihak. Sekali lagi Dave mengulas senyum, ingatannya berputar ke masa lalu. Bagaimana gadis itu memasuki kehidupannya yang dipenuhi kegelapan, membawa lentera yang berpendar terang.
****
Dave merutuki kejengahannya, dalam hati mengumpat keras saat melihat pria tua yang kini membungkuk-bungkuk memohon belas kasihan. Ia lelah harus berurusan dengan orang-orang semacam mereka. Pandangan Dave sedingin kutub, sedang mulutnya sibuk mengunyah permen karet yang telah kehilangan rasanya. Ia membungkuk, menjajarkan wajahnya dengan pria tua yang telah babak belur.
“Permintaanku sangatlah sederhana,” Dave masih menguyah, sementara pria tua itu semakin menggigil ketakutan. Intimidasi seorang Davian Stanley memanglah mengerikan. Dave mendengkus, dengan gerakan cepat ia meraup kerah leher pria tua tersebut.
“Berikan uangnya!” Dave mendesis, membuat pria tua itu hanya dapat menggeleng dengan cepat. Pikirannya kalut membayangkan nasib yang akan ia terima selanjutnya.
Bhuugghh
Tanpa diduga, sebuah pukulan begitu keras mendarat di kepala Dave, hal itu membuat cengkeraman tangannya terlepas. Dave meringis sembari menggeleng, mengusir rasa pusing. Ia mendongak sembari memegang kepalanya. Ingin mengetahui siapa yang begitu berani mencampuri urusannya.
Namun, tanpa diduga manik hijaunya malah bersinggungan dengan sepasang kelereng berwarna cokelat lembut yang memandangnya dengan raut ketakutan. Sungguh Dave tak dapat memahami perasaannya saat itu juga, kemarahan itu menguap begitu saja tatkala melihat wajah manis di depannya.
Atensi Dave beralih pada lembar kain panjang yang gadis itu gunakan untuk menutupi kepalanya. Sekali dua kali Dave pernah melihat orang berpenampilan seperti itu. Sejauh ini ia tak pernah ambil pusing, namun entah mengapa, kini dirinya diliputi rasa penasaran. Bagaimanapun juga, Dave tak dapat memungkiri kecantikan yang dimiliki gadis di depannya itu.
“Pergilah, Pak. Kau aman sekarang!” kalimat gadis itu sukses membuat lamunan Dave buyar, pria itu menggeram jengkel saat buruannya dilepas begitu saja. Sungguh gadis itu tak tahu akan kesalahan yang baru saja ia buat. Pria itu mendekat, meraup lengan mungil yang berbalutkan lengan panjang hingga ke pergelangan tangan.
Gadis itu sontak mengibaskan tangannya, maniknya kini menatap nyalang pada pria yang dinggapnya begitu bejat, menghajar pria tua tak berdaya. “Kau telah membuat kesalahan, Nona!” ujar Dave, berusaha keras menahan amarahnya.
“Aku tak membuat kesalahan apapun, kami tidak pernah diajarkan untuk melukai sesama manusia, sepertimu!” Dave mengangkat sebelah alis, menyadari suatu hal. Ia menelengkan kepala sembari mengulas senyum miring. “Apa yang Dia ajarkan padamu?”
“Cinta dan kasih sayang, keimanan dan jalan kebenaran.” Seketika Dave terbahak. Memandang gadis muslim di depannya tersebut. “Apa yang kau dapatkan dengan mengikuti jalan kebenaran?” giliran gadis itu tertawa, tawa pelan yang sukses menghipnotis seorang Davian Stanley.
“Kedamaian dan kebahagiaan yang abadi,” tatapannya melembut kala mengatakan kalimat tersebut. Dave tercenung, dalam hati merutuk, adakah kedamaian yang mungkin dapat ia peroleh juga. Pria itu bahkan bergeming tak acuh saat gadis itu berlalu meninggalkannya. Ia hanya dapat memandang punggung gadis itu yang kian menjauh.
“Dapatkah aku memilikinya juga?” kalimat Dave sukses membuat gadis berjilbab itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh, membuat hijabnya yang menjuntai berkibar dengan lembut. “Kau akan mendapatkannya setelah melalui jalan kebenaran milik Tuhan.”

***
“Hai!”
“Astaghfirullahhalazim!”
Dave mengulas senyum lebar melihat wajah terkejut dari gadis di depannya itu. “Bagaimana kau mengetahui rumahku?” tanyanya dengan raut terkejut. Dave hanya mengulas senyum miring sembari menjulurkan tangannya. “Dave, Davian Stanley,” bukannya menjawab, Dave malah memperkenalkan dirinya. Gadis itu hanya memandangnya dengan raut datar, sedetik kemudian ia menghela napas panjang dan mengulas senyum tipis.
Tanpa menyambut uluran tangan Dave, gadis itu memilih menyatukan kedua telapak tangannya dan memperkenalkan diri, “Sahara, Sahara Shiha.” Dave pun menarik tangannya yang mengambang dengan hampa. Mengulas senyum sembari mengangguk-angguk.
“Kau merawat tokomu dengan baik,” Dave menatap sekeliling, toko bunga mungil yang begitu indah dan tertata, harum bunga menguar memenuhi penciuman. Kemudian, atensinya beralih pada sebuket tulip berwarna putih yang berada di sisi kiri. “Cantik,” pria itu menghirup aroma yang menguar dari setangkai tulip yang ia genggam. Sepasang maniknya sibuk memandang Sahara yang tampak tak acuh.
Dan dari pertemuan itulah Dave mulai mengenal Sahara. Ada sesuatu yang membuat pria itu tertarik padanya, sesuatu yang berbeda. Dimata Dave, Sahara tampak begitu berkilau, kontras dengan dirinya yang diselimuti kabut kegelapan. Ada rasa asing yang menyusup dalam relung hati seorang Davian Stanley tatkala netra cokelat lembut itu bersinggungan dengan kelereng hijau miliknya. Apalagi saat segaris senyum terbit dari bibir mungil yang ranum tanpa pewarna itu.
Tanpa sadar, rasa asing itu tumbuh kian subur. Terbersit keinginan Dave untuk mendapatkan Sahara. Mengklaim gadis itu sebagai miliknya. Namun, suatu hal sukses membelenggu keinginan tersebut. Dave berusaha bercermin, dengan kehidupannya saat ini, ia bahkan takkan mampu memberikan kebahagiaan untuk gadis itu. Ia sadar, dunianya dan Sahara teramat berbeda.
Davian Stanley, di dunia bawah siapa yang tak mengenal nama tersebut. Bounty Hunter satu ini sungguh ditakuti di seluruh penjuru dunia bawah Amerika. Pekerjaannya selalu bersih tanpa jejak, kepolisian tak pernah bisa menyentuhnya. Entah dengan keberuntungan seperti apa, ia bisa lolos dari kejaran kepolisian bahkan badan intelijen nasional. Sampai saat ini pun, pihak berwajib belum pernah bisa mengetahui rupanya.
Tiada pantas baginya untuk bersanding dengan Sahara, gadis berhijab yang menjalankan kehidupannya di atas jalan kebenaran. Hamba Tuhan yang selalu taat dan tak pernah ingkar. Ia menyadari posisinya, ibarat tempatnya di  jurang terdalam neraka, sedang gadis itu berada dalam istana surga. Ia ditemani jilatan api neraka, sedangkan gadis itu dikelilingi cahaya yang berpendar indah.
Namun, semakin lama Dave memendam perasaannya, semakin besar pula kecintaannya terhadap gadis muslim tersebut. Hari itu, Dave membulatkan tekadnya untuk menemui gadis yang selalu mengisi relung hatinya.
***
“Nyanyianmu sungguh indah,” celotehan itu membuat Sahara menghela napas dan menggelang pelan. Ia menoleh, mendapati seseorang telah berdiri bersandar di ambang pintu kamarnya. Ia satukan keningnya dan sampul kitab sucinya sebelum menaruhnya di meja yang cukup tinggi. Baru saja ia menyelesaikan bacaan Al-Quran-nya.
“Sepertinya, aku mulai terbiasa dengan kedatanganmu yang tiba-tiba dan tanpa permisi, setidaknya ucapkanlah salam padaku,” siapalagi kalau bukan Dave. Ya, pria itu selalu saja datang dan masuk ke rumahnya sesuka hati. Pria itu hanya tersenyum dan mendudukan dirinya di single sofa berwarna cream. Memerhatikan aktivitas gadis di depannya, melipat kain yang ia gunakan untuk sembahyang.
“Apa yang kau nyanyikan barusan?”
“Aku tidak menyanyi, hanya melantunkan ayat suci Al-Quran.”
“Al-Quran?” Dave membeo.
“Ya, dia yang memberitahu kami jalan kebenaran untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian?”
“Dapatkah manusia sepertiku mendapatkan kedamaian juga?” entah mengapa, Dave begitu penasaran. Ia bahkan tak sadar telah mengulang pertanyaan yang pernah ia lontarkan. “Jawabanku masih sama,” Sahara berujar dengan senyum, membuat Dave mengangkat alis sembari menyeringai.
“Ajarkan aku untuk mendapatkannya!”
Dan entah bagaimana, hari itu Dave dan Sahara menghabiskan waktu bersama. Mulai dari mengunjungi Islamic Cultural Center di Manhattan, berkeliling di tempat-tempat berbau islam hingga berbincang banyak hal di taman kota sembari menikmati ice cream di musim panas yang terik. Disitulah Dave semakin mengetahui kecerdasan yang dimiliki gadis muslimah itu. Betapa kayanya ia akan ilmu pengetahuan.
Dipandangnya Sahara yang begitu asyik menikmati ice cream berasa strwberry favoritnya. Segaris senyum terbit di wajah manis itu tatkala menyadarai Dave tengah memandangnya. Dave tersenyum, sungguh ia bertekad melindungi senyum manis yang terlukis di wajah gadis itu. Dalam hati ia berjanji takkan membiarkan senyum itu luntur.
Sepertinya, janji hanyalah menjadi janji. Tak lama waktu berselang, hamburan peluru menginterupsi perbincangan mereka. Seketika suasana menjadi kacau, pengunjung taman berlarian panik, tak sedikit para wanita berusaha menyelamatkan anaknya. Sahara menjerit histeris saat seorang gadis kecil tumbang dengan kepala berlubang, tepat di depan matanya. Tangan gadis itu bergetar, kakinya lemas juga gemetar seakan tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri.
Sigap, Dave meraih tubuh gadis itu agar tak jatuh. Tanpa pikir panjang, ia membopongnya dan berlari menjauh dari kekacauan. Sebelah tangan Dave bergerak merogoh saku jaket, mencari partner setianya. Namun, gerakannya seketika terhenti saat tangan Sahara menahan lengannya.
“Kau berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dan mengikuti jalan kebenaran,” gadis itu berujar lemah. Berusaha mencegah Dave untuk tidak lagi membunuh.
Pria itu mengembuskan napas panjang. Melonggarkan pegangannya pada gagang pistol maut kesayangannya. “Aku tak bisa membiarkan mereka menyakitimu,” ujar Dave dengan raut menyendu. “Lalu, apa bedanya mereka dengan dirimu jika kau juga melukai mereka,” Dave menggeram, berusaha mengontrol amarah. Keinginannya hanya melindungi gadis itu, cukup, hanya itu saja. Ia tak peduli dengan nyawa orang lain, apalagi dirinya.
DOR
Lengah, satu peluru bersarang di lengan kokoh milik Dave. Pria itu hanya meringis kecil, seakan tak ambil pusing dengan perih yang mulai terasa. Seiring dengan darah yang mulai deras mengalir. Ekspresi lain ditunjukkan oleh Sahara, wajah gadis itu berubah pias dengan bulir keringat dingin yang mengalir. Pandangannya kosong, syarat akan ketakutan dan syok yang cukup hebat.
Dave mengguncang pelan bahu Sahara, berusaha menenangkan gadis tersebut. “Sahara, sadarlah. Hei, Aku baik-baik saja!” hanya gelengan kecil sebagai respon yang Dave terima, sepertinya gadis itu sungguh terguncang.
Dave menyadari siapa musuhnya, ia tak dapat tinggal diam. Jika ia terlalu lama di tempata terbuka, maka janjinya untuk menjaga Sahara benar-benar akan berakhir sebagai janji belaka. Tak memedulikan Sahara yang kini panik akan luka tembak yang ia alami, Dave memilih membopong Sahara untuk mencari tempat berlindung. Akhirnya keduanya memasuki sebuah kafe yang kini tak berpenghuni akibat serangan peluru tersebut, dipastikan seluruh pegawai dan pelanggannya telah melarikan diri.
Dave mendudukkan Sahara di belakang counter table berwarna cokelat gelap. “Berjanjilah padaku Sahara, tetaplah disini, aku takkan membiarkan mereka menyakitimu, okay?” Sahara hanya mengangguk tipis dengan pandangan yang masih tak fokus. Namun, baru saja Dave hendak berlalu, gadis itu segera menahan lengan Dave. Dipandanganya pria itu dengan raut sendu, “Kau pun harus berjanji, jangan bunuh siapapun demi diriku, kumohon Dave!” ujaranya memohon.
Dave menelan ludahnya susah payah, sungguh permintaan Sahara teramat berat baginya. Di satu sisi ia akan melindungi gadis itu dari semua bahaya yang ada. Di sisi lain, ia ragu, dapatkah ia melindungi gadis itu tanpa membunuh siapapun?
Dave berpikir keras, menyusun strategi, bagaimanapun ia takkan membiarkan Sahara terluka. Itulah misinya, namun senyum sahara juga menjadi prioritas penting yang harus ia jaga. Akhirnya, dengan berat hati Dave mengangguk, “Aku berjanji!” ujarnya kemudian, tanpa ragu.
Sahara hanya dapat menutup telinganya kuat-kuat saat Dave meninggalkannya dan melawan musuh-musuhnya. Bibir gadis itu tak berhenti melafalkan doa-doa kepada Tuhan berharap pria itu selamat. Suara baku hantam terdengar gamblang di telinga Sahara, dentingan kaca, hingga suara keramik yang diadu, sungguh membuat seluruh tubuh gadis itu merinding.
Detik berlalu dengan cepat, menit pun bergulir, pertarungan masih terjadi. Sahara tak paham, entah siapa yang menjadi lawan Dave. Hingga suara ledakan pistol terdengar begitu nyaring memekakkan telinga. Jantung Sahara berdegup kencang, seiring dengan suasana yang berubah hening. Perlahan tapi pasti, Sahara bangkit berdiri. Perlahan ia menoleh ke belakang, berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Dan begitu terkejutnya gadis itu dengan pemandangan yang ia lihat. Reflkes, ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Bagaimana tidak, hal yang dilihatnya sungguh mengerikan. Seluruh isi kafe telah hancur berantakan, piring dan cangkir pecah berhamburan. Cairan berwarna merah kental menggenang di beberapa tempat, menguarkan aroma karat menjijikan.
Pandangan Sahara menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga maniknya tertuju pada sosok yang tergeletak tak jauh dari dirinya berpijak. Darah menggenang di sekitar tempatnya terbaring. Sontak, Sahara berjalan cepat ke arah sosok tersebut. Tanpa pikir panjang, dipangkunya kepala pria yang tak lain adalah Dave.
“Kumohon, tetaplah terjaga!” “Dave, Dave, terjagalah!”
Pandangan pria itu mulai meredup, hal itu membuat Sahara menggeleng kuat-kuat. Ada rasa tak rela yang begitu kuat dan sakit saat melihat pria itu terkapar tak berdaya. Tanpa sadar, Sahara merindukan sosok tengil Dave yang selalu mengganggunya.
“Kau berjanji akan menjadi orang yang lebih baik, Dave!” Sahara berteriak, masih berusaha menekan luka tembak di perut pria tersebut. Tak lama setelah itu, serombongan polisi bersenjata lengkap berjalan ke arah mereka.
“Nona, dia adalah seorang kriminal, dia penjahat internasional. Menjauhlah!” Sahara menggeleng dan menepis kasar tangan salah seorang opsir polisi.
“Tidak!”
“Sahara ...” Dave berbisik pelan, “setidaknya aku tidak melanggar janjiku padamu ... biarkan aku pergi dan menebus kesalahanku,” ia berucap terbata, sudut bibirnya bahkan mengalirkan darah dari dalam tubuhnya. Pria itu mulai kesulitan bernapas. “Tuntun aku di jalan Tuhanmu, Sahara!” dan kalmat itu sukses membuat Sahara terbelalak.
Mungkin inilah saat dan jalan yang paling tepat untuk Dave, dengan pelan Sahara menutun Dave mengucapkan dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya. Dan akhirnya, Dave pun menjemput kedamaian yang didambakannya. Saat itulah Sahara menyadari rasa asing yang menyusup ke dalam kalbunya. Rasa yang orang kenal dengan istilah cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar