“Kak Iqbal udah nunggu lama?” tanya Retta sesaat ia keluar dari gerbang.
“Belum kok, mau langsung pulang?” Iqbal menjawab kalem.
“Mampir makan dulu bisa? Retta laper.”
“Bisa, ke tempat biasa aja, ya?”
Aretta hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia langsung memakai helm kemudian menaiki motor biru Iqbal. Sekitar pukul empat sore mereka sampai di warung makan yang sudah menjadi langganan. Aretta segera turun dan memesan dua porsi gado-gado pedas untuk dirinya dan Iqbal. Setelah itu mereka mencari tempat duduk ternyaman yang tidak lama kemudian pesanan mereka sudah siap.
“Tadi kamu diliatin temen-temen kamu waktu aku jemput, nggak malu?” Iqbal sesekali bertanya agar suasanya tidak canggung.
“Malu? Emang kenapa?”
“Kan aku sekolah di SMK yang bisa dibilang pinggiran tapi, kamu sekolah di SMA favorit.”
“Retta nggak pernah malu, selama kita nggak berbuat salah buat apa malu?” kata Retta jelas.
“Nggak pernah sekalipun kamu ngerasa nyesel udah milih aku?”
“Retta malah bangga udah milih Kak Iqbal.” Retta tersenyum manis yang selalu membuat Iqbal candu.
Matahari mulai kembali ke peraduannya dan sebentar lagi maghrib pun tiba. Setelah selesai makan, Iqbal langsung membayar dan pulang bersama Aretta. Rumah mereka bersebelahan namun, Iqbal tak pernah mengantarkan Aretta sampai depan rumah karena ada orang tua yang menentang. Mereka tidak sepaham, latar belakang keluarga Aretta dicap buruk oleh keluarga Iqbal dan itu menyebabkan hubungan mereka harus dirahasiakan.
“Retta, maaf aku cuma bisa nganter sampai sini.” Iqbal merasa bersalah.
“Iya, Retta paham kok. Nanti malam jangan lupa chat, ya?”
“Oke, siap!”
Mereka berpisah di pertigaan sebelum komplek rumah mereka. Iqbal pulang duluan dengan motor birunya dan Aretta terpaksa berjalan sendiri sekitar lima ratus meter untuk sampai ke rumahnya.
***
“Aretta, bangun Nak, sudah subuh.”
“Baik bu.”
Aretta segera bangun dan langsung melaksanakan salat subuh berjamaah dengan keluarganya. Setelah itu, ia bersiap-siap untuk sarapan bersama.
“Aretta, nanti di rumah sendiri, ya? Ayah harus pergi dan Ibumu akan ikut.”
“Oke.”
Ia segera menggunakan sepatu converse-nya ketika sarapan selesai. Aretta menunggu Iqbal hari ini di depan rumah karena orang tuanya sudah pergi tadi. Jadi, tidak masalah bertemu di sini.
“Aretta!” panggil Iqbal.
“Hai, Kak!”
“Sekarang kamu ulang tahun, kan?” Iqbal bertanya lagi.
“Eh, iya. Aretta lupa kalau hari ini ulang tahun.”
“Kamu pengin apa? Aku beliin, deh.”
“Aretta pengin novel! Kita ke gramedia, ya, Kak?”
“Oke, let’s go!”
Sabtu pagi itu, mereka langsung melesat pergi ke Gramedia terdekat. Sesampainya disana, Aretta masuk mendahului dan Iqbal hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis itu.
“Kak Iqbal mau beliin Aretta berapa novelnya?” Aretta bertanya setelah melihat-lihat novel yang tertata rapi di rak.
“Terserah, kamu mau berapa?”
“Dua, boleh?” Aretta menunjukkan dua novel bersampul biru dan satunya lagi pink.
“Tiga juga boleh, kok.”
“Enggak deh, kasian Kak Iqbal. Satunya Aretta beli pakai uang sendiri aja, nanti uangnya Kak Iqbal abis.”
“Ya udah, terserah kamu.” Iqbal mengalah, karena jika masalah seperti ini Aretta tidak akan mau mengalah, pasti ngotot mau beli pakai uang sendiri. Jadi, daripada memperpanjang masalah lebih baik diam.
“Abis ini kita ke timezone, ya, Kak? Mau nggak? Mau ya ...?” mohon Aretta.
“Iya, sini aku bayar dulu novelnya.” Iqbal berjalan menuju kasir dan Aretta berjalan membuntuti di belakang.
Bugh
Tidak sengaja Aretta menabrak bapak-bapak yang juga sedang berjalan menuju kasir bersama istrinya, sepertinya bapak itu sedang terburu-buru sampai tidak memperhatikan jalan. Iqbal yang mendengar itu segera berbalik dan menolong Aretta bangun.
“Ada yang sakit?” tanya Iqbal memastikan.
“Tidak. Saya minta maaf Pak, saya tidak sengaja.”
“Ya, tidak apa-apa. Maaf, saya sedang terburu-buru.” benar ‘kan dugaan Aretta. Tapi, tunggu sebentar Aretta seperti mengenal bapak dan ibu itu, namun siapa?
“Iya Pak, sekali lagi maaf.” Aretta memperhatikan wajah bapak itu dengan cermat sekali lagi setelah bapak itu tidak menunduk.
“Aretta? Ngapain kamu disini?”
“Ayah? Bukannya Ayah ada urusan?”
“Ayah mencari buku yang diinginkan atasan Ayah, kemudian akan langsung ke luar kota untuk rapat penting. Kamu kesini sama siapa?”
“Hai, Om! Aretta kesini bersama saya,” Iqbal menjawab duluan dan menyalami tangan Aldi-ayah Aretta.
“Oh, kalian berdua saja?”
“Iya, Om. Maaf lancang, tadi nggak izin Om dulu.”
“Ya, baiklah. Setelah ini kau antar Aretta pulang. Dan untuk Aretta, kau tidak boleh keluar rumah sebelum Ayah dan Ibu pulang.”
Aldi segera meninggalkan mereka dan menuju kasir. Sedangkan Aretta masih mematung mendengar perkataan Ayahnya tadi. Ia tidak menyangka akan ketahuan seperti ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat Ayahnya pulang. Iqbal pun sama, ia bingung dengan dirinya sendiri bisa seberani itu berbicara dengan Ayah Aretta.
“Mau pulang sekarang?” Iqbal bertanya pada Aretta setelah mereka keluar dari Gramedia.
“Sekarang aja, Aretta pengin sendiri.”
Kemudian mereka pulang dengan keadaan canggung. Tidak ada yang mau mengawali berbicara sama sekali. Aretta membisu dan Iqbal kalut dengan pikirannya memikirkan apa yang harus ia jadikan alasan nanti.
“Aretta?” Aretta terkejut dengan panggilan Iqbal karena sejak tadi ia melamun.
“Iya, Kak? Eh, udah sampai. Aretta masuk dulu, ya, Kak. Makasih novelnya.”
“Sama-sama. Jangan lupa salat, makan juga.”
Aretta hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Iqbal. Bagaimana hubungannya dengan Iqbal nanti, akankah tetap baik-baik saja seperti tidak terjadi sesuatu? Tidak mungkin, keluarganya jelas menentang hubungan ini apalagi keluarga Iqbal? Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan nanti pada Ayahnya?
Aretta mengurung diri di kamar memikirkan itu semua hingga malam tiba pun ia tidak sadar. Ketokan pintu membuat ia harus keluar kamar dan membukakan pintu, Aretta sudah menduga siapa yang datang. Ya, Ayahnya sudah pulang dan itu artinya ia harus siap dihujani berbagai pertanyaan.
“Aretta, akhiri hubunganmu dengan Iqbal secepatnya.” Ucap Aldi setelah masuk rumah dan duduk di ruang tamu.
“Tapi, Yah?”
“Enggak ada tapi, pokoknya besok kamu udah gak ada hubungan apapun dengan Iqbal. Keputusan Ayah tidak bisa diganggu gugat.” jelas Aldi.
Aretta segera masuk ke kamar dan kembali menangis. Ia serasa tidak tahu apa alasan atau penyebab orang tuanya tidak sepaham dengan keluarga Iqbal dan tidak merestuinya.
"Aretta harus ketemu Kak Iqbal besok. Sekarang lebih baik tidur biar besok bisa lebih kuat menghadapi kenyataan."
***
Paginya Aretta sudah siap dengan jaket dan celana training hitamnya kemudian keluar rumah menunggu Iqbal. Semalam ia sudah memberitahu Iqbal untuk bertemu pagi ini di taman membicarakan hubungan mereka akan seperti apa kedepannya.
"Kak Iqbal, hai! " sapa Aretta saat Iqbal keluar rumah menggunakan kaos hitam dan celana training hitam pula. Aretta diam mematung melihat Iqbal yang entah karena apa terlihat sangat tampan pagi ini.
"Oh, hai! Langsung jogging?"
"Bo-boleh."
Tepat pukul enam mereka berlari menyusuri komplek dan sesekali Aretta tertawa kala Iqbal melontarkan suatu candaan.
"Udah capek? Mau makan? " tawar Iqbal saat
mereka sudah lumayan lama berlari.
"Bubur ayam, ya?"
Iqbal mengangguk sabagai jawaban. Mereka segera menuju gerobak penjual bubur ayam yang ada di sekitar komplek. Kali ini Iqbal yang memesan bukan Aretta seperti biasa.
"Kamu baik-baik aja? " Iqbal bertanya memastikan kondisi Aretta.
"Hem, Kak Iqbal sendiri? Orang tua udah tau? " Aretta balik bertanya sembari memakan bubur ayamnya.
"Iya, udah. Terus mau gimana?"
"Apanya gimana? " Aretta bersikap sok polos
"Mau sampai sini aja?" Iqbal mulai tegas.
"Ya, terserah. Aretta ikut aja."
"Aretta! Tolong,"
"Aretta gak tau mau gimana, Kak! Aretta bingung, Aretta harus apa?" mata gadis itu mulai memerah.
"Orang tua udah tahu, apa bisa kita kayak gini lagi? "
"Ya udah, Aretta ikut aja. Kak Iqbal mau gimana,"
"Aku gak bisa sampai disini aja, tapi aku juga gak bisa nentang orang tua."
"Terus, Kak Iqbal mau gimana?”
"Kita break dulu, bisa?"
"Kak Iqbal gak mau usaha dulu ngeyakinin orang tua? Aretta yakin bisa bujuk ayah buat restuin,"
"Susah Aretta, kita cuma break sebentar. Aku bakal cari cara bagaimanapun itu biar bisa balik lagi kaya sekarang. "
"Kak... " air mata Aretta mulai meluncur.
"Jangan nangis, aku gak suka liat kamu nangis. "
"Oke, kalau itu mau Kak Iqbal kita sampai disini aja. " ucap Aretta dan gadis itu langsung keluar meninggalkan Iqbal sendiri.
Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan mereka setelah pagi ini. Aretta harus tetap bisa semangat menjalani penilaian akhir semester dengan suasana hati yang bisa dikatakan buruk. Begitupun Iqbal, ia harus pintar menyembunyikan wajahnya yang kusut saat menerima hasil ujian empat hari lagi.
****
“Iqbal, udah selesai urusannya?” Bunda Zahra bertanya pada anak sulungnya.
“Udah, Bun.”
“Baguslah, besok Bunda dan Abah yang akan datang mengambil hasil ujian kamu.”
“Iqbal takut mengecewakan, Bun.”
“Apapun hasilnya yang penting kamu udah berusaha semaksimal mungkin.” Bundanya selalu bisa menenangkan hati Iqbal.
“Makasih, Bun.”
Kemudian Bundanya keluar dari kamar Iqbal dengan senyuman. Laki-laki itu membuka ponselnya melihat foto terakhir Aretta bersamanya, hampir satu tahun mereka berhubungan dan akhirnya tepat pagi tadi hubungan mereka berakhir. Iqbal membuka laptopnya dan memindah semua foto Aretta ke dalamnya. Ia akan mengedit foto-foto itu selama hari liburnya yang kebetulan sesuai dengan bakatnya sembari menunggu hari Kamis saat diumumkannya hasil ujian.
“Iqbal! Makan malam, nak.” Bundanya memanggil dari arah ruang makan dan tidak ada jawaban. Terpaksa Bundanya harus masuk ke kamar Iqbal dan dilihatnya putranya tertidur dengan laptop yang masih menyala menampilkan sosok foto Aretta saat pulang sekolah.
“Iqbal, bangun. Makan dulu, udah ditunggu Abah di luar.”
“Hah? Iya, Bun.” Iqbal segera terbangun dan menutup laptopnya cepat takut Bundanya melihat apa yang sedang ia kerjakan.
“Bunda tunggu di ruang makan, kamu langsung keluar, ya?”
“Oke, Bun.”
Iqbal segera mencuci mukanya agar segar dan berganti pakaian, sedari tadi pulang Iqbal langsung menatap laptopnya hingga malam ini dan ketiduran. Ia berharap Bundanya tidak melihat foto Aretta yang ada di laptopnya tadi. Setelah selesai, Iqbal langsung keluar menuju ruang makan dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul tinggal dirinya seorang.
“Iqbal yakin dengan hasil ujian besok?” Abah bertanya.
“Insyaallah, Bah.”
“Oke, hubungan kamu dengan Aretta sudah berapa lama?”
“Hampir satu tahun,” Iqbal menunduk takut menatap wajah Abahnya.
“Udah berani bohongin orang tua kamu?”
“Udah, Bah. Kita lagi makan, bahas itu nanti aja. Lagian Iqbal juga lagi masa remaja, wajar kaya gitu.” Bundanya menengahi mereka.
“Udah Bunda, gak usah belain Iqbal. Kalau salah ya salah!”
“Iqbal udah selesai makan, mau balik ke kamar dulu.”
Iqbal langsung masuk ke kamar dan duduk di meja belajarnya memikirkan kesalahannya. Apa ia sebegitu salahnya sampai Abahnya berkata seperti itu? Ia berpikir apakah dirinya akan menjadi anak durhaka? Tidak! Itu tidak boleh terjadi, setelah berkutat lama dengan pemikirannya, Iqbal memutuskan untuk tidur. Ia lelah dengan semua ini.
***
“Aretta! Besok Senin kamu ada ujian ‘kan? Ayah mau nilai kamu maksimal untuk kali ini, ayah tidak mau lagi menerima hasil ujian kamu dengan peringkat kedua.” tegas Aldi saat masuk ke dalam kamar Aretta.
"Aretta sakit, Yah.”
“Ya sudah, sekarang minum obat terus tidur, besok pagi bangun awal, belajar lagi.”
“Baik, Yah.”
Aretta mengambil obat yang biasa ia simpan di laci meja belajar kemudian meminumnya dan bergegas tidur. Ayahnya hanya memandanginya dari pintu kondisi putrinya. Aldi merasa bersalah membuat keputusan seperti itu namun, hanya itu juga yang bisa ia lakukan untuk anak semata wayangnya.
Paginya, Aretta sudah siap berangkat sekolah diantar oleh Ayahnya. Entah sengaja atau kebetulan, Aretta melihat Iqbal di depan rumah saat bersiap-siap untuk lari pagi. Setidaknya, Aretta mersa lebih bersemangat setelah melihat senyum menawan Iqbal.
Waktu berlalu begitu cepat, Aretta telah menyelesaikan penilaian akhir semester itu dengan baik dan Iqbal pun sudah menerima hasil ujian yang cukup memuaskan. Pada sore hari setelah penerimaan hasil ujian, mereka bertemu di taman. Aretta mengucapkan selamat pada Iqbal dan Iqbal sekalian berpamitan pada Aretta bahwa mulai Senin besok ia mulai bekerja di luar pulau.
“Jadi, Kak Iqbal bakal dikirim dari sekolahan sebagai perwakilan karena nilai Kak Iqbal bagus?”
“Ya, kurang lebih seperti itu. Jadi, aku mau pamit sekalian sama kamu.”
“Oh, take care, ya, disana. Maaf gak bisa ngasih apa-apa buat salam perpisahan.”
“Gak usah, dengan kamu selalu senyum disini aku udah seneng kok.”
“Kak ....” mata Aretta mulai memerah.lagi.
“Jangan nangis, aku cuma sebentar. Disana aku bakal cari cara gimana biar kita bisa balik lagi kaya dulu, ok?” Iqbal menenangkan Aretta dan memeluk gadis itu.
“Iya, tetap kabarin Aretta, ya, Kak?”
“Kalau pekerjaan udah selesai, aku usahain. Udah, jangan nangis lagi.”
Begitulah kisah mereka sampai sore ini, masih menyimpan rasa satu sama lain dan masih selalu mendoakan dari kejauhan juga menitipkan rindu pada bintang berharap bintang akan menyampaikan. Tanpa disadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan melihat semua kejadian sore itu.
***
2 tahun kemudian
Pagi itu, Aretta bersiap untuk pergi kerja kelompok bersama temannya namun, saat membuka pintu rumah ia dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki memakai hoodie hitam di depan rumah.
“Aretta.” Panggil laki-laki itu.
“Siapa?” Arette merasa sedikit takut dengan pria misterius ini.
“Iqbal.” Iqbal menjawab seraya membuka topi yang digunakannya untuk menutupi wajahnya.
Sontak, Aretta terkejut dan langsung memeluk Iqbal. Ia merasa sangat bahagia bisa melihat kembali sosok Iqbal yang ia rindukan selama ini.
“Kak Iqbal kapan pulang?”
“Kemarin sore, dan aku mau nepatin janji aku ke kamu dulu.”
“Janji?”
“Aku akan lamar kamu nanti sore.”
“Oh. Hah? Apa? Gak salah dengar aku?”“Enggak, orang tua kamu juga udah kasih restu. Ternyata mereka diam-diam merencanakan ini semua sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke-tujuh belas.”
“What? Seriously?” Aretta tidak percaya ini semua.
“Iya, serius. Aku pun kaget semalam waktu Abah bilang seperti itu.”
“Aku seneng banget, Kak. Ini merupakan kado paling indah yang pernah kuterima. Terimakasih.” Aretta kembali memeluk Iqbal dan kali ini Iqbal membalasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar